About Me

header ads

BEDA PERSEPSI SISTEM PERTANIAN ALAMI DAN ORGANIK


 BEDA PERSEPSI SISTEM PERTANIAN ALAMI DAN ORGANIK


Ada yang beranggapan bahwa istilah antara sistem pertanian alami dan organik adalah sama. Sutanto (2002) menjelaskan istilah antara pertanian alami dengan pertanian organik, prinsipnya sangat berbeda. Prinsip pertanian alami mengisyaratkan kekuatan alam mampu mengatur pertumbuhan tanaman. Pertanian organik   campur   tangan   manusia lebih  intensif untuk  memanfatkan lahan  dan berusaha meningkatkan hasil berdasarkan prinsip daur-ulang yang dilaksanakan sesuai dengan kondisi setempat.

Metode pertanian alami memerlukan lebih sedikit tenaga daripada metode lain manapun. Metode dimaksudkan tidak menimbulkan polusi dan tidak memerlukan penggunaan bahan bakar fosil. Oleh sebab itu, ada empat azas (prinsip) pertanian alami menurut Fukuoka (1978), yaitu : 1) Tanpa olah tanah. Pada prinsipnya tanah mengolah sendiri, baik  menyangkut  masuknya  perakaran tanaman maupun kegiatan mikrobia tanah, mikro fauna dan cacing tanah.

Sebagaimana dijelaskan  oleh  Utomo (Evizal  dkk.,1997) bahwa sistem tanpa olah tanah lebih mampu mempertahankan kesuburan tanah sehingga dalam  jangka  panjang  mampu mempertahankan produktivitas lahan. Manfaat ekonomis yang diperoleh dari sistem ini adalah penggunaan tenaga kerja dan biaya produksi berkurang serta memperpendek periode penyiapan lahan, sehingga produktivitas lahan meningkat. 2) Tidak digunakan sama sekali pupuk kimia. Tanah dibiarkan begitu saja dan tanah dengan sendirinya akan memelihara kesuburannya. Hal ini mengacu pada proses daur-ulang tanaman dan hewan yang terjadi di bawah tegakan hutan, karena pertanian alami adalah sistem pertanian yang tanpa pupuk walaupun pupuk organik sekalipun, sistem pertanian alami meyakini bahwa lahan yang memiliki sejumlah organisme tanah yang dibutuhkan oleh tanaman akan berfungsi mengembalikan tingkat kesuburan tanah secara alami. Dan itu dianggap sebagai kodrat alam (sunatullah).

Jadi unsur hara yang ada dalam tanah tidak akan pernah habis, sekalipun telah diserap oleh tanaman dalam satu periode hidup tanaman tertentu, sehingga tidak perlu ada penambahan pupuk sekalipun pupuk organik.3) Tidak dilakukan pemberantasan gulma baik melalui pengolahan tanah maupun penggunaan herbisida. Pemakaian mulsa jerami, tanaman penutup tanah maupun menggenangan sewaktu-waktu akan membatasi dan menekan pertumbuhan gulma. 4) Sama sekali tidak tergantung pada bahan kimia. Sinar matahari, hujan dan tanah merupakan kekuatan alam yang secara langsung akan mengatur keseimbangan kehidupan alami.

Pandangan tersebut tidak berarti petani harus pasif terhadap kehendak alam akan tetapi pertanian harus tunduk pada alam dan bukan sebaliknya. Petani harus menanam jenis tanamannya tiap tahun atau bulan disesuaikan perubahan-perubahan cuaca,  populasi serangga, kondisi  tanah  dan  banyak  faktor alam lainnya. Karena alam di mana-mana berubah terus, kodisinya tidak pernah persis sama setiap tahun bahkan bulan. Hal ini berimplikasi pada bagaimana mengelola kearifan lokal yang didukung oleh kebijakan desentralisasi pertanian di daerah.

Prinsip-prinsip pertanian alami tersebut sebenarnya merupakan tradisi sistem pertanian dunia yang hingga saat ini masih diterapkan di beberapa negara Asia dan Afrika, seperti di Laos, India, Tanzania dan beberapa negara lainnya termasuk Indonesia.  Sistem pertanian tersebut dikenal dengan sistem perladangan, atas kepentingan ilmiah yang semakin menitik beratkan pada sistem pertanian dan teknologi yang dikembagkan di daerah setempat. Sistem pertanian dan teknologi  tersebut  dilihat sebagai suatu sumber gagasan yang pantas, kultivar yang beradaptasi serta praktek-praktek yang bisa mengarah pada pemanfaatan sumberdaya setempat secara berkelanjutan.


Post a Comment

0 Comments