About Me

header ads


“DURSBAN” SOLUSI BAGI PETANI

Kecamatan Meureubo merupakan salah satu Kecamatan yang ada di daerah Kabupaten Aceh Barat. Kawasan ini memiliki luas lahan sawah sekitar 994 Ha dan juga ada 1.900 Ha lahan kering/lahan hortikultura. Berbicara tentang hortikultura maka yang terbayang adalah Hortikultura  itu berasal dari Bahasa Latin yakni hortus yang berarti kebun dan culture artinya cocok tanam. Nah, hortikultura sendiri mempunyai makna yaitu budidaya tanaman kebun. Tanaman hortikultura mampu memberikan keuntungan bagi penanamnya baik untuk dijual maupun untuk dikonsumsi sendiri. Ada beberapa tanaman yang termasuk tanaman hortikultura yaitu tanaman buah (frutikultur/pomologi), tanaman sayuran (olerikultura), tanaman bunga (florikultura), tanaman obat (biofarmaka), dan taman (lansekap).
Sayur merupakan bagian dari tumbuhan yang umumnya berupa daun dan tangkai, batang yang masih muda, ataupun berupa bonggol umbi. Cabe Merah (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas sayuran yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Kebutuhan Cabe terus meningkat setiap tahun sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri yang membutuhkan bahan baku Cabe. Dari sisi produsen, akhir-akhir ini usaha tani Cabe mengalami permasalahan cukup serius dalam hal budidaya. Permasalahan tersebut mengakibatkan menurunnya produktivitas Cabe. Pasar komoditas Cabe sulit diprediksi, mengingat fluktuasi harga Cabe yang berubah-ubah.
Pada tahun 2019, wilayah BPP Kecamatan Meureubo mendapat bantuan APBA dari  Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura yaitu Bidang Hortikultura berupa bantuan untuk budidaya tanaman Cabe. Hal ini ditanggapi positif oleh pihak BPP dan juga petani penerima manfaat tersebut. Sungguh petani di wilayah ini sangat senang ketika bantuan itu datang kepada mereka, seakan mereka mendapatkan sesuatu yang yang luar biasa dan dengan sepenuh hati ingin melaksanakan budidaya tersebut dilahan mereka.
Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, beberapa petani mengalami kondisi yang sulit yaitu tanaman Cabe mereka terserang hama sehingga menyebabkan tanamannya tidak tumbuh sempurna. Berdasarkan artikel dari bapak Aristotel Gunawan, SP yang berjudul ‘Malaikat Maut yang Bernama Thrips (Thrips parvispinus Karny ) menunjukkan bahwa salah satu permasalahan yang cukup serius dalam budidaya tanaman Cabe yaitu terserang hama baik itu Thrip maupun kutu kebul. Trips dan Kutu Kebul merupakan vector penyebab terjadinya serangan virus gemini. Kondisi tanaman Cabe yang lemah akibat serangan hama menyebabkan Virus Gemini leluasa  dan berjaya merusak sendi kehidupan tanaman. Daun menjadi kuning, pertumbuhan terganggu terutama pada pertumbuhan pucuk dan tunas.  Situasi dan kondisi inilah yang dialami oleh petani-petani Cabe yang ada di wilayah kecamatan Meureubo. Mereka terpuruk. Banyak tanaman Cabe dicabut dan dibakar untuk mencegah penyebaran hama dan penyakit tersebut.
Salah satu petani yang merasakan hal tersebut yaitu bapak Syamsul Rizal, beliau merupakan petani yang ada dikelompok Samarasa Desa Mesjid Tuha. Awal mula nya beliau senang dengan adanya bantuan dari pemerintah, tetapi di dalam perjalanan usaha budidaya tersebut dengan kondisi lahan tanaman Cabe yang terserang hama membuat hati dan pikiran beliau menjadi sedih dan kecewa. Ketika kami PPL mengunjungi kebun beliau, tersirat kata bahwa beliau sangat sedih dengan kondisi tanaman yang sekarang terjadi. Semangat beliau dan rekan-rekan turun, tidak bergairah, lemah dan lesu seakan harapan beliau yang tadinya sangat besar menjadi sirna.
Melihat kondisi yang dialami oleh petani yang dulunya bersemangat dan sekarang menjadi pasrah, membuat hati dan pikiran kami ikut merasakan sedih. Apa yang harus kami lakukan... itu tersirat didalam sanubari kami. Ingin rasanya melihat kembali semngat dan keceriaan dari petani dengan menatap masa depan dalam melakukan budidaya tersebut. Ini saat nya PPL tidak boleh tinggal diam, harus ada solusi dari permasalahan tersebut dengan mencari referensi maupun bertanya kepada sang ahli.
Dengan melakukan koordinasi serta adanya bantuan dan semangat yang luar biasa dari seorang koordinator hebat, dia adalah Bapak Aristotel Gunawan, SP. Beliau merupakan Koordinator BPP Meureubo yang sangat peduli dan berdedikasi tinggi kepada bawahan dan juga seluruh petani yang ada di wilayah Kecamatan Meureubo. Berdasarkan  pengalaman pribadinya, beliau menganjurkan dan merekomendasikan penggunaan Insektisida Dursban 200 EC kepada bapak Syamsul Rizal.
Dursban 200 EC merupakan racun kontak dan lambung, berbentuk pekatan berwarna kuning yang dapat diemulsikan, untuk mengendalikan hama-hama pada tanaman jagung, bawang merah, cabai, bunga krisan, kacang hijau, kacang tanah, kedelai, kelapa, kelapa sawit, kubis, lada, petsai, tembakau, tomat, wortel dan kakao.
Insektisida Dursban 200 EC yang berbahan aktif klorpirifos memiliki jangkauan yang luas dalam hal pengendalian hama ulat, kutu-kutuan. Untuk mengendalikan serangan hama Dursban 200 EC mampu melindungi tanaman secara efektif akan tetapi untuk mendapatkan hasil yang maksimal harus melakukan penyemprotan secara berkelanjutan 7 - 10 hari sekali. Untuk dosis agar dapat mengendalikan serangan hama dari 1 - 2 ml / ltr atau pun bisa mengunakan penutupnya yaitu 1 tutup / tangki.

Berselang beberapa hari kemudian, bapak Syamsul Rizal mendatangi BPP Meureubo dan membisikkan kepada kami... Alhamdulillah dengan rekomendasi yang bapak berikan kepada saya, tanaman Cabe saya khususnya daunnya sudah mulai kembali hijau. Mendengar kata tersebut dari mulut petani, sontak membuat hati Bapak Koordinator dan Ibu PPL terkejut dan terharu. Kami sangat senang ketika melihat kecerian dari petani kami dan semangat beliau muncul kembali. Asa yang terpuruk kini kembali bersinar. Bagi kami Fungsional Penyuluh Pertanian, kesenangan, kebahagian,dan semangat yang dimiliki dan dirasakan oleh petani, kami juga turut merasakannya. Begitu pula sebaliknya, kesedihan, kesusahan mereka, juga kami rasakan. Hanya itu yang bisa kami lakukan semoga apa yang kami lakukan dapat membuat petani kami sejahtera.
Selamat menikmati dan semoga bermanfaat.........



Post a Comment

1 Comments