About Me

header ads

“ PRINSIP PENYULUHAN PERTANIAN SERTA FALSAFAHNYA “



Perubahan paradigma pembangunan pertanian dan pedesaan ke arah desentralisasi, peningktana daya saing, dan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan, membawa konsekuensi terhadap paradigma penyuluhan. Mendengar kata penyuluhan, maka yang terlintas sebagian orang adalah penyuluh pertanian lapangan (PPL), petugas yang mengendarai motor, datang mengunjungi petani di desa-desa, menyampaikan informasi dan teknologi pertanian, terkadang juga memandang bahwa penyuluhan merupakan proses “transfer of tehnology” (TOT).

Memasuki era otonomi daerah, terjadi perubahan kelembagaan penyuluhan dan peran penyuluh. Di sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam beberapa dekade ini telah berpengaruh terhadap perubahan perilaku masyarakat. Falsafah adalah dasar-dasar pemikiran yang akan dijadikan sebagai landasan kerja. Falsafah penyuluhan pertanian merupakan landasan atau dasar-dasar pemikiran dalam penyuluhan, sebagai pengarah dan pedoman dalam memberikan kegiatan penyuluhan denga benar.

Paulian (1987) menyatakan falsafah penyuluhan pertanian diantaranya adalah : pertama, belajar dengan mengerjakan sendiri adalah efektif, apa yang dialami sendiri  dikerjakan akan berkesan dan melekat pada diri petani dan nelayan dan menjadi kebiasaan baru. Adanya begitu banyak perubahan yang telah dan sedang terjadi di lingkungan pertanian, baik pada tingkat individu petani, tingkat lokal, daerah, nasional, regional maupun internasional maka pelaksanaan penyuluhan pertanian perlu dilandasi oleh pemikiran yang mendalam tentang situasi baru dan tantangan masa depan yang dihadapi oleh penyuluh pertanian.

Bertani adalah profesi para petani, dalam keadaan bagaimanapun petani akan tetap bertani (kecuali dia pindah profesi) dan selalu berusaha dapat bertani dengan lebih baik dari sebelumnya. Dunia petani tidak lagi sebatas desanya, tetapi sudah meluas ke semua daerah di negaranya bahkan ke manca negara. Oleh karena itu para petani juga semakin memerlukan informasi tentang dunianya yang semakin luas. Kalau kebutuhannya akan informasi itu tidak terpenuhi maka para petani itu akan terkendala untuk maju.

Akibat dari adanya desentralisasi dan otonomi daerah, penyuluhan pertanian harus lebih memusatkan perhatian pada kebutuhan pertanian dan petani di daerah kerjanya masing-masing. Ekosistem daerah kerjanya harus dikuasai dengan baik secara rinci, ciri-ciri lahan dan iklim di daerahnya harus dikuasai dengan baik, informasi yang disediakan haruslah yang sesuai dengan kondisi daerahnya, intinya segala informasi di daerah kerjanya harus benar-benar valid. Kepentingan petani harus selalu menjadi titik pusat perhatian penyuluhan pertanian. Kalaulah ada kepentingan lainnya tetap kepentingan petani adalah yang pertama.

Agar berhasil penyuluhan pertanian harus disajikan kepada petani dengan menempatkan petani dalam kedudukan yang sejajar denga penyuluhnya, dan diperlakukan secara humanistik dalam arti mereka dihadapi sebagai manusia yang memiliki kepentingan, kebutuhan, pendapat, pengalaman, kemampuan, harga diri dan martabat. penyuluhan pertanian di masa depan harus dapat dilaksanakan secara profesional dalam arti penyuluhan itu tepat dan benar secara teknis, sosial, budaya, dan politik serta efektif karena direncanakan.

Post a comment

0 Comments